MENYELAMI SUDUT PANDANG SOCRATES SI FILSUF YANG NYENTRIK

Potret sebuah patung Socrates yang sedang duduk termenung 

"Menikahlah, jika mendapatkan istri yang baik, kamu akan bahagia. Namun jika tidak, akan jadi bijak".
 -Socrates-

Sebuah kutipan yang menyentuh dari seorang tokoh filosofi Yunani kuno yakni Socrates. Bagi para jurusan ilmu filsafat, pasti tidak asing lagi mendengar nama tokoh tersebut. Namun bagi yang belum tahu, siapakah sosok Socrates itu?

Well, sedikit mengenal tentang Socrates. Dikutip dari Wikipedia.com, Socrates lahir dan hidup di era tahun 469-399 SM. Ia merupakan salah satu pemikir dan seorang figur sebagai pendiri atau bapak filsafat Barat sekaligus seorang filosofi yang paling teladan dan paling aneh dari para filosofi Yunani lainnya. Ia juga sebagai guru Plato murid terbaiknya yang mendirikan Akademia, Universitas pertama di dunia dalam sejarah barat.

Socrates memulai setiap pemikiran filsafat dengan keingintahuannya. Ia kemudian menjadikan rasa ingin tahu ini sebagai awal dari kebijaksanaan.

Kebijaksanaan, menurut Socrates dapat dicapai dengan hidup bermartabat dan bermoral, selaras dengan nilai etika dan nilai-nilai yang baik.

Menurut keyakinan Socrates bahwa makna kehidupan terletak pada pencarian kebenaran, hidup dengan moralitas dan menjadi pribadi yang baik. Ia juga meyakini bahwa kebahagiaan adalah tujuan akhir dari kehidupan manusia dan kita sebagai manusia dapat mencapainya dengan selalu belajar dan terus berkembang.

PERSPEKTIF (SUDUT PANDANG) MENGENAI PASANGAN HIDUP DARI PEMIKIRAN SEORANG SOCRATES 

Ilustrasi seorang Socrates sedang termenung dengan sebuah pemikirannya.

Dilansir dari Viva.co.id, sebagai seorang pemikir dan filsuf Yunani kuno. Socrates memberikan pandangan yang menarik tentang pernikahan yang masih relevan hingga saat ini. Ia meyakini bahwa menikah adalah langkah menuju kebahagiaan, terutama jika menemukan istri yang baik. Namun jika tidak beruntung dalam memilih pasangan, seseorang dapat memperoleh kebijaksanaan melalui pengalaman tersebut.

Socrates menyadari bahwa kebahagiaan hidup tidak terletak pada status lajang, melainkan juga dalam keberhasilan menjalani pernikahan yang sehat. Ia menyakini bahwa menemukan istri yang baik dapat menjadi sumber kebahagiaan yang mendalam. 

"Istri yang baik akan menjadi mitra sejati mendukung dalam setiap langkah dan menjadi penyemangat dalam menghadapi setiap tantangan hidup".

Tentu jelas sekali, pandangan Socrates bukanlah seruan untuk menikah dengan sembarang orang. Ia juga menekankan pentingnya pemilihan pasangan yang bijak. Jika seorang tidak beruntung dalam menemukan istri yang baik, tidak apa-apa. Setidaknya, kita dapat belajar dengan pengalaman tersebut dan menjadikan sumber kebijaksanaan yang berharga.

Dalam perjalanan hidup, kita sering kali belajar melalui kesalahan dan pengalaman pahit. Socrates pun meyakini bahwa :

 "Ketidakberuntungan dalam pernikahan dapat mengajarkan kita banyak hal tentang diri sendiri dan membentuk karakter yang bijaksana. Bahkan dalam ketidakbahagiaan terdapat pelajaran yang berharga".

Dalam konteks modern, pandangan Socrates memberikan inspirasi untuk merenungkan arti pernikahan dan bagaimana memilih pasangan hidup. Terlepas dari zaman, kebijaksanaan dalam menentukan jalan hidup tetap menjadi kunci untuk mencapai kebahagiaan yang sejati.

Socrates mengajarkan bahwa menikah dengan istri yang baik membawa kebahagiaan. Sementara pengalaman pernikahan yang sulit dan gagal dapat membentuk kebijaksanaan. Oleh karena itu, bijaksanalah dalam memilih pasangan hidup untuk meraih kebahagiaan yang sejati.



Sincerely



-SM-


















Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

INILAH AKU YANG BARU : Chapter 1

MUSIK BAHASA UNIVERSAL