AKU DAN KAMU BEDA, TERUS?

  • Potret saat akad nikah dengan istriku Detha Fajar Agusta.

Have you ever felt stuck because there are too many differences between you and your partner?

You guys keep thinking.

" Ah, forget it, we're too different."

Well, surely some of you have experienced this too. For example, if it's a girl to a guy.

"Ah, my boyfriend is insensitive"

Or vice versa, from boy to girl.

"Oh, he's really spoiled, whiny, touchy, a little cranky, a little cranky. I'm getting dizzy, I'm tired of being like this all the time."

Even after that, once it's over or broken up, if you get a new one, that's when you get it. Because actually, maybe the problem isn't there. Then there are also girls who think like this.

"Oh, my guy is really stubborn, I would say like a rock. That's enough, I'll just do it now, okay?"

Then finally it breaks up, eh, who knows, you get it again, maybe even harder. Ehh, but it could also be, it could actually last longer usually.

Well, maybe some of you have heard and even been confused when someone says "Differences are Beautiful", what is that? when in reality it is really hard to meet a partner who is different.

But have you ever thought that maybe things like that or traits like that are actually suitable and can balance you out?

Because it's true, that differences are actually common or normal. Because in essence God created us different. Yes, starting from physical, nature or character, hair color, skin color, mindset, yes, there are still many more.

So there is no reason, we reject differences. So if we reject differences or do not like differences. It seems like we are fighting against Him  or opposing the nature of Allah SWT, the Creator of the entire Universe.

Well, actually, differences are something we have to accept. As long as they are good or bring goodness. But there are also negative differences. For example, differences that are ingrained. Like, for example, the nature of Mr. Fulan, like this because he is used to being like this in his house, it becomes a habit.

Even though outside it is still not good. And this person, Fulan, does not realize it, because while at home, he feels that he is right and since birth in his family environment or his siblings have understood that this person is like that. But it turns out, when in the outside environment he becomes a trouble maker for other people. Now this is one of the negative differences. 

Bondan Prakoso's experience with his beloved wife Margie Caroline in navigating their household.

Portrait of Bondan and Margie after marriage.

Reported from a YouTube channel "Bittersweet Corner" owned by Bondan and Margie. They want to share and tell stories from the beginning of their acquaintance until now being married.

"Yup, there are so many people out there who see us as closed off. And they don't share much," said Bondan.

"Iya kita lebih ke nge-keep gitu", sambung Margie.

"Jadi kaya masih banyak yang mereka-reka gitu kan, jadi what's kind relationship yang mereka jalanin?", ungkap Bondan lagi.

"Tapi banyak yang mikir kita tuh sama. Ehh kalian berdua tuh pemikirannya sama nih, cocok banget kalian", timpal Margie.

"Padahal guys, hehe...sejujurnya kita berdua itu beda banget", imbuhnya sambil tersenyum.

"Yup betul, jadi kalo mau flashback berapa tahun yang lalu? 14 tahun. Oke kita pertama kali kenal 14 tahun yang lalu terus sampe mungkin kita menikah. Terus tahun-tahun pertama, tahun-tahun kedua yaa. Itu di fase itu, wah itu bener-bener fase kita apa yaa?", pikir Bondan.

"Lebam haha", jawab Margie sembari tertawa.

"Bengep haha", timpal Bondan sembari ikut tertawa pula.

"Lebam saudara-saudara, disitulah kita lebam, babak belur", ucap Margie.

"Apa yaa? kaya gw tuh ngerasa ini kok jadi begini yaa. Kayanya awalnya tuh manis gitu", pikir Bondan.

"Tapi memang semua pasti begitu sih", imbuhnya.

"Karena waktu baru kenal kan, gak mungkin kita langsung punya masalah yang besar. Gak mungkin tiba-tiba, harus menentukan sesuatu yang buat masa depan yang panjang gitu", terang Margie.

"Yup betul, ada jenjang-jenjangnya yaa", tutur Bondan.

"Yaa naik kelas dulu, gitu", timpal Margie lagi.

"Nah di awal-awal itu, yang masih aku inget kan. Ni yang receh nih yaa haha", ungkap Bondan sembari tertawa.

"Pokoknya dari yang surface (tampak luar) sampai yang mendalam", sambung Margie. 

"Core (intinya), itu-itu akhirnya kita dihadapkan sama hal-hal yang seperti itu. Yang mana kita harus, gimana nih maju atau mundur? iya kan", cetus Bondan.

"Kalo maju apa nih solusinya? Itu mulai dari paling receh deh. Eeee masalah selera makanan. Gw suka pedes Margie tuh".

"Anti pedas", langsung sambar Margie.

"Ini anti pedes nih, bener-bener dalam artian anti banget ya, karena beberapa kali momentum tuh yang, kalo pas kita makan bareng. Terus dia kaya langsung kebakaran gitu lidahnya", terang Bondan. 

"Pedes-pedes...terus pas, apanya yang pedes? kayanya dia cuma pesen ayam goreng deh. Terus pas gue cobain, yaa ampun ini mah geli juga enggak", imbuhnya.

"Geli juga enggak dia bilang, sedangkan gue udah kaya langsung, aduuuh pedes banget haha", sambung Margie sembari tertawa.

"Betul, dari situ wah ini beda banget ini", terang Bondan 

"Sama satu lagi, yang lumayan core sebenarnya, walaupun tampak luar. Yaitu selera musik", ungkap Margie 

"Oh iyaa", timpal Bondan

"Selera musik kita tuh beda banget guys, jadi gue itu lebih ke...yang ngedengerinnya tuh Hip-Hop, R&B, Clasic Disco yaa gitu deh, terus Bondan", terang Margie 

"Buat gue, gue suka yang, yaa you know-lah agak-agak berisik gitulah. Jadi Margie tuh suka yang lembut-lembut gitu, yang apa namanya?, ngelus-ngeluslah", sambung Bondan.

"Enggak juga sih, kalo Rap-nya berisik juga suka. Tapi kalo dengerinnya sama kamu kayanya kamu bakal...", cetus Margie.

"Tambahin dikit ininya, kurangin low-nya", timpal Bondan.

"Iya, dia kalo dimobil sering jadi DJ haha", ujar Margie sembari tertawa serempak.

"Kalo gue lagi dengerin lagu Rap, yang agak lumayan apa ya? kaya Snoop Dogg, terus kaya Nest. Yang kaya gitu-gitu di pre-list gue, tiba-tiba dia ngatur bass-nya low ini itu-ini itu, ini kenapa gini si? udah enak lagunya, kenapa si?", tanya Margie.

"Ya kan harus di inilah, harus diracik supaya frekuensinya tuh bisa aku terima juga, gitu", jawab Bondan.

"Tapi kamu curang, kamu ngerti, aku gak ngerti hehe", keluh Margie sambil tersenyum lebar.

"Yaa itu soal selera aja sih", sambung Bondan.

"Okey", timpal Margie.

"Itu yang ini ya guys, lapisan luarnya doang. Nah sebenarnya kalo lebih krusial, lebih ngerinya, itu tuh sebenarnya tuh. Kalo udah bicara sifat sama karakter, wah ini", terang Bondan.

"Bisa tiga hari tiga malam kita nge-podcast haha", sambar Margie sembari tertawa lebar.

"Betul, jadi Margie tuh orangnya. Dia tuh pemikir", terang Bondan 

"Iya", ucap Margie 

"Gue aja nih udah pemikir, gue tuh kalo ada apa-apa tuh gw pikir, hal sekecil apapun gue pikir", ujar Bondan.

"Nah dia tuh yang mikro yang nano juga dipikir haha", imbuhnya sembari tertawa serempak.

"Itu sampe, kadang gue juga mikir, ngapain gue mikirin kaya gini buat sampe 10 tahun, 15 tahun kedepan ibaratnya, udah gue pikirin", sambung Margie.

"Iyaa, nah itu juga tuh, Margie tuh perhitungan. Gimana yaa? nah kalo gue tuh ibaratnya. Misalkan, gue ada duit lebih gitu kan. Terus lagi jalan-jalan, terus ngeliat sepatu lucu nih, wah udah tuh gue gak mikir", terang Bondan 

"Mau...yaa bayar, udah kelar", imbuhnya.

"Kalo Margie tuh...sssaaaaaattt, langsung kalo misal di film LIMITLESS tuh wah keluar semua huruf-huruf, angka-angka semua, kalkulator berjalan gitu", terangnya lagi.

"Emmm...tapi itu kalo udah gak kepake bisa dijual lagi gak yaa? hahaha. Mikirnya tuh udah panjang".

"Terus aku mikir kaya, aduh ntar minggu depan dia sale lagi hahaha" ucap Margie sembari tertawa serempak.

"Jadi banyak, banyak banget", imbuhnya.

"Nah itu kadang-kadang, menghentikan langkah gw guys. Untuk emmmm...ya udah deh gak usah beli deh hahaha", timpal Bondan diikuti tertawa pula.

"Daripada nanti beneran sale gitu kan", imbuhnya.

"Iyaa sakit hati kan", sambar Margie.

"Nah kalo Bondan itu orangnya, mageran. Dia tuh ibaratnya, kalo misalkan gak usah gerak, lebih baik gak usah gerak", terangnya.

"Yaa...ya gimana ya guys? kadang kan kita kan, sebagai laki-laki nih. Kita udah bekerja dengan kapasitas otak yang kadang tuh kalorinya aja gak jelas, kebakarnya berapa?", timpal Bondan.

"Kadang bisa banyak, tergantung problem ya, tergantung tingkat kesulitan gitu. Kalo misalkan bikin lagu yang butuh asupan gizi yang lebih ekstra. Tapi gak terpenuhi, nah itu kan menyebabkan, you know sel-sel tubuh melemah. Terus langsung, aduh kayanya enak nih rebahan dulu nih", imbuhnya.

"Nah kalo Margie itu gak guys, dia tuh mau aktifitasnya sebanyak apa? itu baterainya paling berkurang 10 persen kayanya. Itu padahal, udah dari pagi nih yaa. Udah nyapu, ngepel, udah nge-loundry. Udah...wah udah segala macem deh, ngelap-ngelapin yang berdebu".

"Nyekolah, training anak hehe", sambar Margie seraya tersenyum. 

"Wahh, belum lagi 2 anak", lanjut Bondan.

"Yaa tapi emang gue gak bisa diem, kecuali sakit", timpal Margie.

"Nah betul kecuali sakit, rumah bisu langsung. Silent mood, silent mood", lanjut Bondan lagi.

"Sepi haha", sambar Margie sembari tertawa.

"Nah yang kaya gitu-gitu tuh, yang bikin kita!".

"Ehh tunggu dulu, ada lagi nih guys. Margie itu, clean freak", ucap Bondan seraya memotong pembicaraan Margie.

"Ohh okey!", ucap Margie.

"Clean freak bro, gak tau nih OCD (Obsessive Compulsive Disorder) ya namanya ya? jadi terlalu bersih gitu. Dikit-dikit cuci tangan, dikit-dikit cuci tangan haha. Itu pagi ngepel, habis itu siang ngepel, sore ngepel, malem ngepel, habis masak ngepel lagi", terang Bondan.

"Belum lagi kalo udah ngeliat pajangan-pajangan yang berdebu tuh. Dikit doang debunya, dikit doang, itu langsung...Uuuuff haha", lanjutnya sembari tertawa.

"Terus gimana? kalo liat debu-debu gitu kita diem aja, kita eeuuu...!", pikir Margie.

"Yaa at least kasih jedalah, jangan kerja-kerja gitu kan. Ntar kaya siapa kerja-kerja? haha", terang Bondan sambil tertawa serempak.

"Harus ada jeda dikitlah, bikin jadi agak tenang dikit, udah ada jeda, baru", imbuhnya.

"Buat ibu-ibu yang udah punya anak", ungkap Margie.

"Yaa", ucap Bondan.

"Itu pasti, tau pentingnya kebersihan dan anak-anak tuh gak bisa dibilang, eh ini harus rapih, harus bersih, ini gak boleh berantakan, kan mereka gak bisa kaya gitu kan. Jadi kadang dikasih tau, habis itu pas aku selesai keluar kamar uhh masih berantakan, uhh berantakan lagi. Jadi ya udah aja beres-beres aja terus", terang Margie.

"Yaa tapi, kamu tuh gimana ya?", pikir Bondan.

"Yaa tapi...aku tau, aku emang lebay. Udah over dosis, ya over dosis hahaha", sambar Margie sembari tertawa.

"Tapi jujur dulu aku tuh gak kaya gitu loh. Nih mungkin temen-temen aku yang dengerin dulu, pas tau aku masih muda. Aku tuh dulu...masih muda, maksudnya belum menikah", terangnya.

"Masih muda, sekarang juga masih muda", timpal Bondan.

"Iya oke..asieeeek hahaha", ucap Margie masih menikmati dengan tawanya.

"Yaa pokoknya aku dulu tuh gak separah ini. Ini tuh, pas setelah punya Kara.

"Nah buat temen-temennya Margie yang di luar  sana. Yang mendengarkan ini, coba tolong dikomenar dong. Gimana emang dulunya si? haha", ujar Bondan sembari melontarkan candaannya.

"Dulunya tuh, wow!.
Justru hampir sama kaya kamu", ungkap margie.

"Ohh aku yang sekarang", sambar Bondan.

"Ahh!... kamu yang dari dulu ampe sekarang haha", timbal Margie seraya tertawa bersamaan.

"Dia tuh cuek banget", terangnya.

"Masa sih?", pikir Bondan.

"Ya sekarang udah mulai ini...upgrade. Udah upgrade iOS berapa? haha", tanya Margie dengan gurauannya.

"Dulu tuh biasa naro handuk basah habis mandi di atas tempat tidur, nyebelin kan".

"Hheemm, mantep yaa", cetus Bondan.

"Dan itu banyak tuh, cowok-cowok kaya gitu", sambar Margie.

"Hihh!", cetus Bondan lagi.

"Iihh!...nyebelin banget ntar tiba-tiba ada di sofa. Eehhmm...padahal sofanya dah rapih, bersih bisa-bisanya handuk basah ditaro di sofa. Cess...terus pas ditanya, kok gak taro balik? Ihh tadi perasaan udah haha", terang Margie yang masih menikmati tawanya bersama Bondan.

"Langsung mendadak amnesia", timpal Bondan.

"Haha terus mendadak kaya, hah udah !", 
ungkap Margie.

"Jelas-jelas ada disini handuknya".

"Ada yang mindahin kali itu, mungkin Kara lagi main-main jadi salah", ucap Bondan.

"Main-main handuk basah, gak mungkinlah", sambar Margie.

"Iya-iya, aku akuin, aku akuin, emang dulu aku kaya gitu. Tapi sekarang udah mendingan", ujar Bondan atas pengakuannya.

"Betul, udah mendingan", Margie menambahkannya.

"Menjurus ke inilah, ya di bawah OCD dikitlah, bentar lagilah", terang Bondan lagi.

"Aku juga ngepelnya empat atau lima kali kan, sekarang jadi berkurang, jadi tiga haha", terang Margie.

"Iya-iya tiga", ucap Bondan.

"Satu lagi, ini mungkin banyak, apa yaa? cowok keluhkan kepada pasangan lawan jenisnya".

"Apa tuh?", tanya Margie.

"Sensi", jawab Bondan.

"Uuuhhh!", ucap Margie.

"Gue awal-awal tuh, suka kaget-kaget sendiri. Kalo pas mungkin, gue gak eling yaa. Mungkin tone gue agak ketinggian dikit atau gue salah milih topik, pembicaraan atau kadang kesebut kata-kata yang you know-lah. Sometime kan topik yang diobrolin masalah makanan, tiba-tiba keluar kata-kata ini, itu dia langsung seeeeettt, tuuuuuttt, deeesss langsung!".

"Kamu tadi maksudnya apa?".

"Waaaahhh...! langsung guys, waduh nanti bakal panjang nih malam haha", terang Bondan sembari tertawa lebar.

"Hehe...iya sih, aku emang anaknya kan virgo ya, jadi lebih sensitif, lebih girly", ucap Margie dengan pengakuannya.

"Ohh ngaruh tuh ya, rasi bintang", ujar Bondan.

"Ya sedikit banyak ngaruh sih, kalo aku baca-baca", ucap Margie lagi.

"Berarti virgo agak-agak gitu ya!", timpal Bondan.

"Yah agak lebih sensitif", sambung Margie.

"Halo virgo mana suaranya nih?", sapa Bondan.

"Iya yang virgo, disini komen, keluar kan semua unek-unek kalian, gitu kan. Biar yang lain tau haha", ujar Margie.

"Oke guys, itu mungkin beberapa perbedaan, baik itu yang dari paling luar sampai yang paling dalem. Dan kalo mau dibahas lagi, itu masih banyak perbedaan-perbedaan yang lainnya gitu. Sampai sekarang ini, ya kita udah 12 tahun ya?", pikir Bondan seraya menanyakan kepada Margie.

"Ya menikah udah 12 tahun", jawab Margie.

"Kita masih dalam kondisi, alhamdulillah baik", timpal Bondan.

"Utuh", ucap Margie.

"Lebam tapi utuh haha", imbuhnya sembari tertawa lebar.

"Iya iya bener-bener haha", ujar Bondan yang ikut tertawa pula.

"Yaa begitu guys, jadi fakta lapangannya seperti itu, gak ada hubungan yang dibangun dari awal sampe bertahun-tahun smooth (lancar), aman-aman aja gak ada lah. Salut buat diluar sana pasangan-pasangan yang udah menikah sampe puluhan tahun ya, tiga puluh, empat puluh, lima puluh luar biasa", terang Bondan.

"Betul", sambar Margie.

"Jadi dari yang kita pelajari selama kita bareng menikah 12 tahun ini. Ternyata perbedaan itu enggak selamanya buruk. Jadi perbedaan juga bisa ber-impact (berdampak) baik. Itu soalnya, itu yang kita alamin".

"Ya ya betul, kita bisa jadi orang yang lebih baik lagi. Ternyata perbedaan itu bisa...apa yaa, membuat?", pikir Bondan. 

"Balance", sambar Margie.

"Yup, hidup itu jadi lebih balance", sambung Bondan.

"Nah sekarang kita akan share beberapa tipsnya. Tapi ini versi kita ya!", ujar Margie.

"Ya ya ya...iya betul, jadi kita bukan expert (pakar), kita bukan psikolog, kita bukan dokter cinta", jelas Bondan.

"Uuuhhh love docter haha", timpal Margie sembari tersenyum lebar.

"Yaa based on (berdasarkan) apa yang udah kita jalanin, tipsnya adalah :

Pertama : Stay Positive

Ini berlaku buat keduanya ya, gak bisa cuman salah satu aja. Jadi kalian berdua harus melihat, perbedaan kalian ini adalah suatu hal yang positif.

Kedua : Open Minded

Kalian harus mau mendengar dan menerima opini ataupun sudut pandang  dari pasangan kita yang mungkin beda, ataupun kita gak suka nih, sama si opini pasangan. Tapi coba kita pikirin balik, kaya bisa gak kita liat dari sudut pandang dia. Gak boleh egois ya, kita gak boleh berpikir dari sudut pandang kita aja. Walaupun kita tau, kadang kita ngerasa benar ya kan. Tapi harus inget juga, kadang kita bisa salah juga, jadi harus terbuka pikirannya.

Ketiga : Menerima Kekurangan Pasangan Kita Dan Juga Menerima Kekurangan Diri Sendiri

Jangan nunjuk-nunjuk terus pasangan kita, ini kekurangannya ini, ini kekurangannya itu. Gak taunya, diri kita sendiri masih lebih banyak kekurangannya.

Keempat : Toleransi dan Tenggang Rasa

Dengan toleransi itu, kita ngasih ruang kepada pasangan kita untuk menjadi diri sendiri. Jadi kita gak bisa paksakan,  kasih dia ruang ini kita beda, kamu harus ikut aku. Karena terkadang seseorang memiliki sifat yang sudah melekat atau mendarah daging seperti itu. Jadi gak bisa paksakan, dan kasih kita ruang supaya dia bisa bernafas untuk menjadi dirinya sendiri. Jadi pada saat balik lagi ke visi yang dari dibangun itu akan jadi ringan dan tentunya tidak merasa tertekan.

Kelima : Ubah Cara Pandang Kalian

Nah yang ini gak kalah penting nih, jadi kita harus memiliki perspektif baru. Kita harus memandang perbedaan itu, justru jadi sesuatu yang pada akhirnya diri kita bisa merubah menjadi lebih baik lagi, semacam melengkapi. 

"Contohnya tadi kita kan sempat membahas OCD atau clean freak, mungkin dulu gue sebelum kenal Margie kan orangnya cuek. Kaya tadi kan naro anduk sembarangan habis mandi. Terus kadang kendaraan gak pernah dicuci. Nah pada akhirnya setelah jalanin bertahun-tahun, akhirnya gue mau gak mau jadi kaya "ah gue kok bad person, gue kok begini banget ya", terang Bondan.

"Dari situ gue coba melihat perspektif gue liat Margie yang bersih ya udah sekarang sih lebih enak dan sehat aja hidupnya. Walaupun gue clean freak-nya  gak se-clean Margie". 

"Udah oke kan sekarang, kadang-kadang misalnya anak-anak ada yang nginjek makanan yang berminyak atau jatuh ke ubin. Terus di keramik kita tuh, kemana-kemana gitu. Gue biasanya ngambil kain pel atau heboh ini itu, tapi karena sekarang kecapean 2 anak, aduh nanti aja deh. Wah ternyata bapak satu ini gercep dia. Tiba-tiba ngambil ini, ngambil itu, terus langsung gosok-gosok. Gw yang ehh ntar aja ntar aja dan itu otomatis aja gituu, yaa udah upgrade", sambung Margie.

"Terus ada lagi contoh lain kaya tadi Margie itu kan orangnya perhitungan dan gue kan spending aja gitukan", ujar Bondan.

"Perhitungan itu bukan pelit ya, perhitungan tuh kaya kalkulatornya tuh ini kalo beli ini nanti begini yaa lebih matang aja", sambar Margie.

"Itu bener sih membuat gue jadi lebih hemat hidupnya. Jadi dengan perspektif baru bahwa, ya kaya dulu kan lagi ada lebih banyak ya udah spend-lah gak apa-apa sekali-kali buat nyenengin diri sendiri. Terus kadang gak mikir juga, mau beli apa, beli apa?. Akhirnya pas nyampe ke rumah jadi gak kepake, tapi sejak gue ngerubah perspektif gue berpikir dengan caranya Margie, itu jadi kalo mau beli sesuatu tuh ngulik dulu. Terus mikirnya tuh bisa dua atau tiga langkah ke depan", timpal Bondan.


"Kaya misal nih, gue baru beli sound card, Audio Interface itu, apa yang bagus ya dengan budget sekian?. 
Udah akhirnya barang itu jadi kepakai dan berguna banget, pemikiran gue jadi lebih panjang ke depan. Dan itu setelah gue ngerubah perspektif itu tadi", terangnya.

Nah kalo buat gue nih, gue kan anaknya sensi banget. Jadi emang filternya tuh tipis, mudah amat sangat tersinggung. Semenjak ketemu dan memahami bahwa sifat bapak ini seperti itu ya. Yang emang gak peka, ya udah gitu aja cuek. Di colek gak nengok, ditabok baru nengok. Panggilan pertama panggilan kedua lewat. Kalo udah panggilan ketiga baru hadir haha", terang Margie sembari tertawa lebar.

"Jadi haduh cape ya kaya gini. Nah akhirnya tuh, gue mengurangi tingkat kesensitif itu. Ya gue jadi mulai mikir tuh, ah gue gak bisa kaya gini terus".

"Gue yang cape, terus gue mulai mikir cara pandang dia. Kenapa dia cuek kaya gitu? oh ternyata it's not that bad juga. Dengan gue gak terlalu mikir hal-hal yang gak perlu itu. Kita jadi gak lebih cape, tidur lebih nyenyak. Ya kan gak mikir-mikir kok ini gini, kok ini gini sensinya tuh gak diikutin".

"Nah enakan jadi orang cuek sekali-kali, iya kan!. Jadi kadang dunia ini sudah terlalu gila", ujar Bondan.

"Udah insane (gila)", cetus Margie.

"Orang komen suka-suka gitu, kalo kita pikirin bisa gila. Kita bisa kaya mereka, yang seenaknya aja, nyinyirin orang", ujar Bondan lagi.

"Julid haha", sambar Margie seraya tersenyum lebar bersama Bondan.

"Maaf ya temen-temen kadang-kadang kita perlu pelepasan haha", ucap Margie lagi masih dengan tersenyum lebarnya.

"Oke yang paling terakhir", ucap Bondan.

Sixth : Never Stop Learning 

"Well, this is usually a problem, many people are lazy to study," continued Margie.

"Yes, they stay in their comfort zone, " said Bondan.

"Yes and that's enough, I've been studying for quite a long time. Long school, long time, then time to study my partner's character. He's the only one who understands me," said Margie.

"That's cool, don't be like that, Sergio, why is that? haha," said Bondan with his joke with Margie.

"Yup, never stop learning guys. Because actually differences can be a good thing."

"Yes, it turns out it can be a good thing," Margie added.

"Yes, differences train patience and continue to increase the limits of tolerance with ourselves. Previously we were sensitive to the slightest thing, previously we were slashed at the slightest thing, widen our tolerance!", explained Bondan.

"Nudge, smile, hehe," said Margie.

"And finally, with these differences, it gives us a different perspective when looking at a problem."

"Wow, that's absolutely true!" said Bondan.

"So usually when we solve a problem we have to use our own way, which might not be good actually. Now if we follow our partner, that might actually be a better solution," explained Margie.

"That's right, out of the box, yes, usually we think in a box. Which is only 2X2, but once we get out of that box. Ahh, it turns out it's only like this, the way to solve it, wow, like that. So there's a new perspective," continued Bondan.

"Well, but you have to be clear, to see whether the difference is due to ego or a habit that has stuck with you since childhood. Because if that's the case, it won't be good either," explained Margie.

"Yes, yes... that's how it is, because it's become a habit to be seen properly. Like what we mentioned earlier. Then one of them has to give in all the time. He doesn't want to change, right?" said Bondan while nodding his head in agreement.

"Yes, you have to accept me like that."

"Wow"

"He's not healthy anymore, poor thing," continued Margie.

"Yes, it's a shame the couple isn't equal," added Bondan.

"So that was it guys, what are some of the different experiences between Bondan and Margie in running their household? 

Yup, if any of you have experienced. Things like they experienced, please share your experiences in the comments column. How was it and what was your solution?"

In dealing with your partner's differences. So who knows, I might also learn from your stories. So you and I are different, then?

Well thanks guys, hopefully you can take advantage of this article. Don't forget, please comment write it on below. 



Greetings 




-SM-











Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

INILAH AKU YANG BARU : Chapter 1

MENYELAMI SUDUT PANDANG SOCRATES SI FILSUF YANG NYENTRIK

MUSIK BAHASA UNIVERSAL